Kehidupan mahasiswa arsitektur : Anda bisa jadi apa saja di masa depan

mahasiswa arsitektur
sumber gambar : www.ballstatedaily.com

Jurusan arsitektur termasuk salah satu jurusan bergengsi di fakultas teknik. Biasanya ada banyak pelamar di jurusan ini meskipun pihak kampus hanya menyediakan kuota yang terbatas. Setiap calon mahasiswa harus berjuang keras agar bisa memenangkan persaingan.

Jika mereka akhirnya bisa masuk jurusan ini, tentu akan senang bukan main. Langkah kaki menjadi ringan dan percaya diri. Terkumpul sebuah tekad dan harapan yang besar bahwa kelak akan menjadi seorang arsitek yang handal.

Saya pernah mengalami masa-masa itu – susah senangnya kehidupan mahasiswa arsitektur, sehingga bisa menceritakannya disini.

Kuliah di jurusan arsitektur tidak seindah yang anda bayangkan

Tapi ketika hari-hari kuliah sudah berjalan, mahasiswa baru yang tadinya semangat dan tegap itu harus menghadapi kenyataan yang tidak mudah.

Mata mereka cekung kurang tidur. Rambut acak-acakan tidak sempat disir bahkan tidak sempat mandi. Biasanya ini terjadi sewaktu deadline pengumpulan tugas Studio Perancangan.

Sudah beberapa malam mereka tidak tidur demi menyelesaikaan gambar dan maket yang sebenarnya sudah ditugaskan sejak awal masuk semester. Jadi nyesel kenapa dulu waktu masih awal-awal tidak dikerjakan secara teratur. Tapi memang tidak semudah itu. Kenyataan yang sering terjadi, ide itu baru muncul menjelang deadline. Walhasil terpaksa tidak tidur semalaman demi agar bisa mengumpulkan tugas tepat waktu dan dapat nilai yang pantas agar mengulang lagi di semester berikutnya.

Ini kenyataan. Ketika masih orientasi, saya melihat ada seratus lebih mahasiswa baru jurusan arsitektur di angakatan saya. Tapi dua tiga bulan kemudian jumlah mereka tinggal 90 an. Ada yang memilih pindah jurusan lain, ada yang memilih cuti karena merasa salah ambil jurusan. Dan ada yang memutuskan untuk berhenti karena tugas bertubi-tubi yang terlalu memberatkan.

Sisanya adalah mahsiswa yang memutuskan untuk lanjut berjuang, menghadapi dan menikmati masa-masa perkuliahan.

Seperti pada kampus-kamus pada umumnya, ada mahasiswa yang kelihatan begitu antussias dengan kuliah yang dijalaninya dan ada juga yang mengalir saja karena hanya itu pilihan yang bisa dikerjakan.

Pada awal masa kuliah, mahasiswa yang dari sononya sudah jago gambar serasa dapat mengikuti kuliah dengan mudah khususnya pada kuliah studio. Tapi itu tidak berlangsung selamanya karena ilmu arsitektur berbeda dengan ilmu seni lukis atau sketsa pada umumnya.

Ada banyak factor dan nilai-nilai yang harus dipertimbangkan.

Sebuah bangunan tidak hanya harus indah tapi juga benar secara struktur.

Keindahan bangunan juga harus muncul dari dirinya sendiri, bukan sekedar tempelan luar atau kosmetik.

Pada akhirnya mau jadi arsitek atau tidak adalah sebuah pilihan

Waktu terus berlalu.

Ada yang bisa menyelesaikan kuliah kurang dari 5 tahun.

Ada yang lebih hingga 7 atau 8 tahun

Ada yang tidak selesai.

Ketika waktunya tiba, mahsiswa yang tadinya hanya dibenahi dengan tugas kuliah akan dihadapkan pada beban kehidupan yang sesungguhnya.

Mereka harus bekerja.

Tidak ada jaminan bahwa semua lulusan juruan arsitektur akan menjadi arsitek.

Mungkin karena ilmu arsitektur adalah ilmu yang strategis, sehingga bisa diterapkan untuk bidang pekerjaan yang lebih luas.

Selain jadi arsitek, ada yang akhirnya menjadi pegawai bank, pegawai asuransi, PNS, buka jasa desain rumah freelance, pedagang, makelar, dan macem-macem yang lain. Saya melihat banyak teman-teman saya yang sukses tanpa harus jadi arsitek.

Jadi pada akhrinya, saya hanya bisa berpesan pada mahasiswa dan calon mahasiswa arsitektur:

“Kuliah yang benar! Kalian bisa jadi apapun nanti asal dilakukan dengan benar….”

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *